-->

Keraton Yogyakarta: Sejarah, Arsitektur, dan Budaya yang Menawan

 


Keraton Yogyakarta: Sejarah, Arsitektur, dan Budaya yang Menawan


Sejarah Berdirinya Keraton Yogyakarta

1. Perjanjian Giyanti dan Pembagian Mataram

a. Perjanjian Giyanti adalah perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 oleh Sunan Pakubuwono III, raja Mataram, dan Pangeran Mangkubumi, paman dan pemberontaknya, dengan bantuan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang diwakili oleh Nicolaas Hartingh.

b. Perjanjian ini mengakhiri Perang Jawa (1749-1755) yang terjadi akibat perselisihan antara Sunan Pakubuwono II dan Pangeran Mangkubumi yang bersaing memperebutkan tahta Mataram.

c. Perjanjian ini juga membagi wilayah Mataram menjadi dua bagian, yaitu Surakarta yang tetap dipimpin oleh Sunan Pakubuwono III, dan Yogyakarta yang diberikan kepada Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

d. Pembagian ini menandai berakhirnya kekuasaan Mataram sebagai kerajaan terbesar di Jawa dan awal dari munculnya dua kerajaan baru yang berbeda, yaitu Kesultanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

 

2. Perjanjian Jatisari dan Pembentukan Identitas

a). Perjanjian Jatisari adalah perjanjian lanjutan dari Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Maret 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I dan Sunan Pakubuwono III dengan bantuan VOC yang diwakili oleh Nicolaas Hartingh.

b). Perjanjian ini mengatur tentang batas wilayah, pembagian pendapatan, hubungan diplomatik, dan hak-hak istimewa antara kedua kerajaan baru yang berasal dari Mataram.

c). Perjanjian ini juga menetapkan identitas kedua kerajaan yang berbeda, yaitu Surakarta yang menggunakan lambang bintang segi lima (pentagram) dan Yogyakarta yang menggunakan lambang bintang segi sembilan (nonagram).

d). Identitas ini mencerminkan perbedaan pandangan politik, agama, dan budaya antara kedua kerajaan. Surakarta lebih condong ke arah VOC dan Islam ortodoks, sedangkan Yogyakarta lebih condong ke arah rakyat dan Islam sinkretis.

 

3. Perkembangan Keraton Yogyakarta Hingga Kini

A. Keraton Yogyakarta mengalami beberapa peristiwa penting dalam sejarahnya, antara lain adalah:

  • Serangan Inggris pada tahun 1812 yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang mengakibatkan kerusakan bangunan dan pencurian koleksi keraton.
  • Serangan Belanda pada tahun 1825-1830 yang dipimpin oleh Hendrik Merkus de Kock yang menyebabkan perang besar antara Belanda dan Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengkubuwono III, yang dikenal sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa.
  • Serangan Belanda pada tahun 1948-1949 yang dipimpin oleh Simon Hendrik Spoor yang menimbulkan pertempuran sengit antara Belanda dan Tentara Republik Indonesia (TRI), yang kemudian berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), di bawah komando Letnan Kolonel Soeharto, yang dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret.

B. Keraton Yogyakarta juga mengalami beberapa perubahan dalam statusnya, antara lain adalah:

  • Pada tahun 1945, Sultan Hamengkubuwono IX mendeklarasikan dirinya sebagai warga negara Indonesia dan mendukung kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.
  • Pada tahun 1950, Sultan Hamengkubuwono IX menjadi wakil presiden pertama Republik Indonesia sekaligus gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
  • Pada tahun 2012, Sultan Hamengkubuwono X menjadi gubernur DIY yang dipilih secara langsung oleh rakyat.

C. Keraton Yogyakarta saat ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, budaya, dan seni kerajaan.

 

Arsitektur Keraton Yogyakarta

1. Konsep Filosofi dan Simbolisme

  • Arsitektur Keraton Yogyakarta didasarkan pada konsep filosofi dan simbolisme yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep ini bersumber dari ajaran agama Hindu, Budha, dan Islam yang dipadukan dengan kearifan lokal Jawa.
  • Salah satu konsep filosofi dan simbolisme yang mendasari arsitektur Keraton Yogyakarta adalah konsep kosmologi Jawa, yaitu paham tentang alam semesta yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu jagad niskala (alam gaib), jagad karsa (alam pikiran), dan jagad rupa (alam nyata).
  • Konsep kosmologi Jawa ini tercermin dalam tata letak bangunan-bangunan di keraton yang mengikuti garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi sebagai pusat alam semesta dengan Pantai Selatan sebagai tempat bersemayamnya Ratu Kidul, mitos penguasa laut selatan Jawa. Garis imajiner ini disebut garis ghaib atau garis niskala.
  • Bangunan-bangunan di keraton juga memiliki simbolisme yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tingkat kepentingannya. Misalnya, bangunan Siti Hinggil yang berada di depan keraton melambangkan jagad niskala atau alam gaib yang merupakan tempat tinggal para dewa. Bangunan ini hanya boleh dimasuki oleh sultan dan keluarganya pada saat upacara tertentu.
  • Bangunan Kedhaton yang berada di tengah keraton melambangkan jagad karsa atau alam pikiran yang merupakan tempat tinggal sultan sebagai wakil Tuhan di dunia. Bangunan ini hanya boleh dimasuki oleh sultan, keluarga, dan abdi dalem tertentu yang memiliki kedekatan dengan sultan.
  • Bangunan Kamandhungan yang berada di belakang keraton melambangkan jagad rupa atau alam nyata yang merupakan tempat tinggal rakyat. Bangunan ini boleh dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kepentingan dengan keraton.

 

2. Kompleks Bangunan dan Fungsinya

Kompleks bangunan Keraton Yogyakarta terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu:

1. Pagelaran, yaitu bangunan terbuka yang berfungsi sebagai tempat penyambutan tamu-tamu kehormatan, upacara-upacara kenegaraan, dan pertunjukan seni budaya. Di bagian depan Pagelaran terdapat regol (pintu gerbang) Donopratopo yang melambangkan pintu masuk ke keraton.

2. Siti Hinggil, yaitu bangunan tertinggi di keraton yang berfungsi sebagai tempat penobatan sultan, pengangkatan pejabat tinggi keraton, dan penyimpanan pusaka-pusaka kerajaan. Di bagian depan Siti Hinggil terdapat regol Brajanala yang melambangkan pintu masuk ke alam gaib.

3. Kedhaton, yaitu bangunan utama di keraton yang berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan keluarganya. Di bagian depan Kedhaton terdapat regol Danapratapa yang melambangkan pintu masuk ke alam pikiran. Di dalam Kedhaton terdapat beberapa bangunan penting, seperti:

  • Bangsal Prabayeksa, yaitu bangunan tempat sultan menerima laporan dari pejabat-pejabat keraton.
  • Bangsal Kencono, yaitu bangunan tempat sultan menerima tamu-tamu penting dari dalam dan luar negeri.
  • Bangsal Manguntur Tangkil, yaitu bangunan tempat sultan bersantai bersama keluarga dan abdi dalem dekatnya.
  • Gedhong Kaca, yaitu bangunan tempat penyimpanan benda-benda pribadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX, termasuk koleksi fotografi, radio, telepon, dan sepeda motor.
  • Gedhong Sekar Kedhaton, yaitu bangunan tempat tinggal permaisuri dan putri-putri sultan.
  • Gedhong Prabasuyasa, yaitu bangunan tempat tinggal putra-putra sultan.

4. Kamandhungan, yaitu bangunan belakang di keraton yang berfungsi sebagai tempat tinggal abdi dalem keraton. Di bagian depan Kamandhungan terdapat regol Kemandhungan yang melambangkan pintu masuk ke alam nyata. Di dalam Kamandhungan terdapat beberapa bangunan penting, seperti:

  • Bangsal Witana, yaitu bangunan tempat sultan menerima tamu-tamu biasa dari dalam dan luar keraton.
  • Bangsal Manis, yaitu bangunan tempat sultan menerima tamu-tamu istimewa dari dalam dan luar keraton.
  • Bangsal Trajumas, yaitu bangunan tempat sultan menerima tamu-tamu wanita dari dalam dan luar keraton.
  • Bangsal Srimanganti, yaitu bangunan tempat pertunjukan wayang kulit, wayang wong, tari-tarian, dan karawitan di keraton.
  • Bangsal Sri Manganti, yaitu bangunan tempat pertunjukan macapat, seni suara, dan seni sastra di keraton.

 

3. Koleksi Museum dan Pusaka Keraton

A. Keraton Yogyakarta memiliki beberapa museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, budaya, dan seni kerajaan. Museum-museum tersebut adalah:

  • Museum Lukisan, yaitu museum yang berisi lukisan-lukisan yang menggambarkan tokoh-tokoh penting keraton, pemandangan alam, peristiwa sejarah, dan ajaran agama. Beberapa lukisan yang terkenal adalah lukisan Sri Sultan Hamengkubuwono I karya Raden Saleh dan lukisan Sri Sultan Hamengkubuwono IX karya Basuki Abdullah.
  • Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yaitu museum yang berisi benda-benda yang pernah digunakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, termasuk perlengkapan militer, medali, bendera, pakaian dinas, dan dokumen-dokumen penting. Museum ini juga menampilkan peran Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil presiden pertama Republik Indonesia dan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Museum Kereta, yaitu museum yang berisi koleksi kereta-kereta kencana yang digunakan oleh sultan dan keluarganya untuk berbagai keperluan. Beberapa kereta yang terkenal adalah Kyai Garuda Yeksa yang digunakan untuk kirab penobatan sultan, Kyai Manik Retno yang digunakan untuk bepergian sehari-hari oleh sultan, dan Kyai Kanjeng Jimat yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I sampai III untuk upacara Garebeg.
  • Museum Batik, yaitu museum yang berisi koleksi batik-batik khas keraton yang memiliki motif-motif tertentu sesuai dengan fungsi dan maknanya. Beberapa motif batik yang terkenal adalah Parang Rusak Barong yang melambangkan kekuatan dan kewibawaan sultan, Sidomukti yang melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan keluarga sultan, dan Sidoasih yang melambangkan kasih sayang antara sultan dan permaisuri.

 

B. Selain museum-museum tersebut, Keraton Yogyakarta juga memiliki koleksi pusaka-pusaka kerajaan yang disimpan di beberapa tempat tertentu. Pusaka-pusaka tersebut antara lain adalah:

  • Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yaitu sepasang keris pusaka yang merupakan lambang kekuasaan sultan. Keris ini dibuat oleh Mpu Gandring pada masa Kerajaan Singhasari dan menjadi milik Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah memenangkan perang melawan Sunan Pakubuwono II. Keris ini disimpan di Gedhong Prabayeksa dan hanya dikeluarkan pada saat penobatan sultan.
  • Kyai Ageng Plered, yaitu meriam pusaka yang merupakan lambang kekuatan militer keraton. Meriam ini dibuat oleh Ki Ageng Plered pada masa Kerajaan Pajang dan menjadi milik Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah memenangkan perang melawan Sunan Pakubuwono II. Meriam ini disimpan di Siti Hinggil dan hanya dikeluarkan pada saat upacara Grebeg.
  • Kyai Guntur Madu, yaitu gong pusaka yang merupakan lambang keagungan keraton. Gong ini dibuat oleh Ki Ageng Guntur Madu pada masa Kerajaan Majapahit dan menjadi milik Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah memenangkan perang melawan Sunan Pakubuwono II. Gong ini disimpan di Bangsal Kencana dan hanya dipukul pada saat upacara Sekaten.
  • Kyai Kanjeng Kyai, yaitu gamelan pusaka yang merupakan lambang keindahan keraton. Gamelan ini dibuat oleh Ki Ageng Kanjeng Kyai pada masa Kerajaan Mataram dan menjadi milik Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah memenangkan perang melawan Sunan Pakubuwono II. Gamelan ini disimpan di Bangsal Srimanganti dan sering dimainkan pada saat pertunjukan seni budaya di keraton.

 

Budaya Keraton Yogyakarta

Tradisi dan Upacara Keraton

- Budaya Keraton Yogyakarta mencerminkan kekayaan dan keunikan tradisi, seni, dan sastra kerajaan. Beberapa tradisi dan upacara keraton yang masih dilestarikan hingga kini antara lain adalah:

  - Upacara Sekaten, yaitu upacara yang dilaksanakan selama tujuh hari untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak dan diprakarsai oleh Sunan Kalijaga. Upacara ini ditandai dengan penempatan gamelan sekati di depan Masjid Gedhe dan pesta rakyat di alun-alun utara.

  - Upacara Siraman Pusaka dan Labuhan, yaitu upacara yang dilakukan pada bulan Suro untuk membersihkan dan merawat pusaka-pusaka keraton. Upacara ini dilaksanakan di empat tempat dan hanya diikuti oleh keluarga keraton. Labuhan adalah upacara sedekah yang dilakukan di Pantai Parangkusumo dan lereng Gunung Merapi.

  - Upacara Garebeg, yaitu upacara yang diadakan tiga kali dalam satu tahun kalender Jawa, yaitu pada tanggal 12 bulan Mulud, tanggal 1 bulan Sawal, dan tanggal 10 bulan Besar. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran keraton. Upacara ini ditandai dengan kirab gunungan dari keraton ke Masjid Gedhe.

  - Upacara Tumplak Wajik, yaitu upacara yang dilakukan dua hari sebelum upacara Garebeg dengan membuat wajik, yaitu makanan khas dari beras ketan dan gula kelapa. Upacara ini dihadiri oleh pembesar keraton. Musik-musik khas budaya Jogja biasa digunakan dalam upacara ini.

 

Seni Pertunjukan dan Musik Keraton

Seni pertunjukan dan musik keraton juga memiliki ciri khas tersendiri, seperti:

1. Wayang kulit, yaitu seni pertunjukan yang menggunakan boneka kulit sebagai tokoh cerita. Cerita wayang kulit biasanya bersumber dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan budaya Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga bertindak sebagai narator, pengisi suara, dan sutradara.

 2. Wayang wong, yaitu seni pertunjukan yang menggunakan manusia sebagai tokoh cerita. Cerita wayang wong juga bersumber dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan budaya Jawa. Wayang wong dimainkan oleh para penari yang mengenakan kostum dan riasan khas.

3. Tari-tarian, yaitu seni pertunjukan yang menggunakan gerak tubuh sebagai ekspresi seni. Tari-tarian keraton biasanya memiliki makna simbolis dan ritual. Beberapa tari-tarian keraton yang terkenal adalah tari Serimpi, tari Bedoyo, tari Srimpi, tari Golek, dan tari Gambyong.

4. Gamelan, yaitu seni musik yang menggunakan alat musik perkusi tradisional Jawa. Gamelan memiliki tangga nada khas yaitu slendro dan pelog. Gamelan biasanya mengiringi seni pertunjukan seperti wayang kulit, wayang wong, dan tari-tarian. Beberapa gamelan keraton yang terkenal adalah gamelan Sekati, gamelan Monggang, gamelan Slendro-Pelog, dan gamelan Kyai Kanjeng Kyai.

 

Bahasa dan Sastra Keraton

Bahasa dan sastra keraton juga menunjukkan pengaruh dari berbagai bahasa lain, seperti:

  • Bahasa Jawa Kuno, yaitu bahasa Jawa yang digunakan pada masa Kerajaan Medang hingga Mataram Kuno (abad ke-8 hingga ke-10 M). Bahasa ini merupakan bahasa sastra tertua di Indonesia yang memiliki banyak karya sastra seperti Kakawin Ramayana, Kakawin Arjunawiwaha, Kakawin Bharatayuddha, dan Kakawin Nagarakretagama.
  • Bahasa Sansekerta, yaitu bahasa klasik India yang digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, agama, dan sastra di Asia Selatan dan Tenggara. Bahasa ini merupakan sumber dari banyak kata serapan dalam bahasa Jawa, terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep filosofi, kosmologi, dan kebudayaan Hindu-Budha.
  • Bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan sebagai bahasa agama Islam dan sastra di Timur Tengah dan sebagian Asia. Bahasa ini merupakan sumber dari banyak kata serapan dalam bahasa Jawa, terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep agama, hukum, dan keilmuan Islam.
  • Bahasa Belanda, yaitu bahasa yang digunakan sebagai bahasa penjajah Belanda dan sastra di Eropa Barat dan sebagian Asia. Bahasa ini merupakan sumber dari banyak kata serapan dalam bahasa Jawa, terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep modern, teknologi, dan administrasi.
  • Bahasa Inggris, yaitu bahasa yang digunakan sebagai bahasa internasional dan sastra di berbagai belahan dunia. Bahasa ini merupakan sumber dari banyak kata serapan dalam bahasa Jawa, terutama yang berkaitan dengan konsep-konsep global, informasi, dan komunikasi.

 

Akses menuju ke Keraton Yogyakarta

Untuk menuju ke Keraton Yogyakarta, Anda dapat menggunakan berbagai moda transportasi, seperti:

- Kereta api, yaitu moda transportasi yang menggunakan rel sebagai jalurnya. Anda dapat naik kereta api dari berbagai kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan lain-lain. Anda dapat turun di Stasiun Tugu Yogyakarta yang berjarak sekitar 2 km dari Keraton Yogyakarta. Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan becak, andong, atau ojek.

- Bus, yaitu moda transportasi yang menggunakan jalan raya sebagai jalurnya. Anda dapat naik bus dari berbagai kota di Pulau Jawa, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara. Anda dapat turun di Terminal Giwangan atau Terminal Jombor yang berjarak sekitar 5 km dari Keraton Yogyakarta. Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot, taksi, atau ojek.

- Pesawat terbang, yaitu moda transportasi yang menggunakan udara sebagai jalurnya. Anda dapat naik pesawat terbang dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Anda dapat turun di Bandara Adisutjipto atau Bandara Yogyakarta International Airport yang berjarak sekitar 10 km dari Keraton Yogyakarta. Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus bandara, taksi, atau ojek.


Harga tiket masuk ke Keraton Yogyakarta

- Untuk wisatawan domestik, harga tiket masuk adalah Rp 15.000 per orang.

- Untuk wisatawan asing, harga tiket masuk adalah Rp 20.000 per orang.

- Untuk anak-anak di bawah 5 tahun, harga tiket masuk adalah gratis.

- Untuk pelajar dan mahasiswa, harga tiket masuk adalah Rp 7.500 per orang dengan menunjukkan kartu identitas.

- Untuk rombongan sekolah atau lembaga, harga tiket masuk adalah Rp 5.000 per orang dengan minimal 30 orang. 

Tiket masuk ini sudah termasuk biaya sewa kamera dan pemandu wisata. Jam buka keraton adalah setiap hari dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB, kecuali pada hari Jumat dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

 


FAQ:

Q: Apa itu Keraton Yogyakarta?

 A: Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Kota Yogyakarta. Keraton ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua. Keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, budaya, dan seni kerajaan.

Q: Bagaimana arsitektur Keraton Yogyakarta?

 A: Arsitektur Keraton Yogyakarta didasarkan pada konsep filosofi dan simbolisme yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Bangunan-bangunan di keraton dibangun dengan mengikuti garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi sebagai pusat alam semesta dengan Pantai Selatan sebagai tempat bersemayamnya Ratu Kidul, mitos penguasa laut selatan Jawa. Bangunan-bangunan di keraton juga memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kepentingannya. Beberapa bangunan di keraton juga dijadikan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan.

Q: Apa saja budaya Keraton Yogyakarta?

 A: Budaya Keraton Yogyakarta mencerminkan kekayaan dan keunikan tradisi, seni, dan sastra kerajaan. Beberapa tradisi dan upacara keraton yang masih dilestarikan hingga kini antara lain adalah Grebeg, Sekaten, Labuhan, Siraman, Garebeg Mulud, dan lain-lain. Seni pertunjukan dan musik keraton juga memiliki ciri khas tersendiri, seperti wayang kulit, wayang wong, tari-tarian, gamelan, sinden, dan macapat. Bahasa dan sastra keraton juga menunjukkan pengaruh dari berbagai bahasa lain, seperti Jawa Kuno, Sansekerta, Arab, Belanda, dan Inggris.

 

Kesimpulan

- Keraton Yogyakarta adalah salah satu objek wisata bersejarah di Kota Yogyakarta yang memiliki sejarah, arsitektur, dan budaya yang menarik untuk diketahui.

- Sejarah Keraton Yogyakarta dimulai dari pembagian kerajaan Mataram menjadi dua melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang melahirkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Perjanjian Jatisari pada tahun yang sama juga menetapkan identitas kedua kerajaan yang berbeda.

- Arsitektur Keraton Yogyakarta mengandung filosofi dan simbolisme yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Kompleks bangunan di keraton memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kepentingannya. Beberapa bangunan di keraton juga dijadikan museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, budaya, dan seni kerajaan.

- Budaya Keraton Yogyakarta mencerminkan kekayaan dan keunikan tradisi, seni, dan sastra kerajaan. Beberapa tradisi dan upacara keraton yang masih dilestarikan hingga kini antara lain adalah Grebeg, Sekaten, Labuhan, Siraman, Garebeg Mulud, dan lain-lain. Seni pertunjukan dan musik keraton juga memiliki ciri khas tersendiri, seperti wayang kulit, wayang wong, tari-tarian, gamelan, sinden, dan macapat. Bahasa dan sastra keraton juga menunjukkan pengaruh dari berbagai bahasa lain, seperti Jawa Kuno, Sansekerta, Arab, Belanda, dan Inggris.

 

Map


Sumber Referensi

(1) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Wikipedia

(2) Keraton Yogyakarta: Sejarah Berdiri, Arsitek, Isi, dan Fungsi Bangunan.

(3) Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat - Kraton Jogja.

(4) Museum Keraton Yogyakarta - Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

(5) Filosofi dan Nilai Budaya Keraton Yogyakarta - jogjaprov.go.id.

(6) Keraton Yogyakarta dan Upacaranya yang Kental Budaya Jawa - detikcom.


My Profile:

Salam! Saya Riesty, seorang penulis konten kreatif dengan fokus pada bidang keahlian CEO (Content, Experience, Optimization). Saya memiliki passion yang mendalam dalam menghasilkan materi konten yang informatif, inspiratif, dan berkualitas tinggi. Dengan latar belakang dalam industri ini, saya memahami pentingnya menghubungkan pengalaman pengguna yang luar biasa dengan optimalisasi konten yang cerdas.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, mengedukasi, dan menghubungkan. Saya senang berkolaborasi dengan klien untuk menciptakan konten yang tidak hanya menggugah rasa ingin tahu, tetapi juga memiliki dampak positif bagi audiens. Keahlian saya dalam bidang CEO memungkinkan saya untuk merangkul pendekatan yang holistik dalam strategi konten, dengan menggabungkan pengalaman, keahlian, kewenangan, dan kepercayaan.

Mari kita berkolaborasi untuk membawa konten Anda menuju level berikutnya dan menghadirkan cerita yang tak terlupakan. Hubungi saya untuk diskusi lebih lanjut. Terima kasih atas kunjungannya!