-->

Perlengkapan yang Harus Dibawa Saat Berwisata ke Luar Negeri: Paspor, Visa, dan Uang Tunai

 


Perlengkapan yang Harus Dibawa Saat Berwisata ke Luar Negeri: Paspor, Visa, dan Uang Tunai

 

Perlengkapan yang Harus Dibawa Saat Berwisata ke Luar Negeri

 

1. Paspor

Paspor adalah dokumen terpenting yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri. Paspor berfungsi sebagai identitas diri dan bukti kewarganegaraan di negara tujuan. Paspor juga diperlukan untuk mengurus visa perjalanan, jika diperlukan.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2021 mencapai 1,27 juta orang. Jumlah ini menurun sebesar 83,53 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 7,74 juta orang. Penurunan ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas antarnegara.

Sebaliknya, jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke luar negeri pada tahun 2021 mencapai 2,48 juta orang. Jumlah ini meningkat sebesar 18,10 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 2,10 juta orang. Peningkatan ini menunjukkan adanya minat yang tinggi dari masyarakat Indonesia untuk berwisata ke luar negeri.

Untuk membuat paspor, ada beberapa dokumen dan biaya yang harus dipersiapkan. Dokumen yang diperlukan antara lain adalah kartu tanda penduduk (KTP), akta kelahiran atau surat nikah, kartu keluarga, dan pas foto berukuran 4x6 cm⁶. Biaya pembuatan paspor tergantung pada jenis dan masa berlaku paspor. Untuk paspor biasa dengan masa berlaku 5 tahun, biayanya adalah Rp355.000. Untuk paspor elektronik dengan masa berlaku 5 tahun, biayanya adalah Rp655.000.

Pembuatan paspor dapat dilakukan secara online melalui situs resmi Direktorat Jenderal Imigrasi. Setelah mengisi formulir permohonan dan mengunggah dokumen yang diperlukan, pemohon akan mendapatkan nomor antrian untuk datang ke kantor imigrasi terdekat. Di kantor imigrasi, pemohon akan melakukan verifikasi data, pembayaran biaya, pengambilan sidik jari dan foto, serta penandatanganan paspor. Proses pembuatan paspor biasanya memakan waktu sekitar 3-5 hari kerja.

 

2, Visa

Visa adalah izin untuk memasuki sebuah negara. Visa diperlukan oleh sebagian besar negara di dunia untuk mengatur arus masuk dan keluar wisatawan asing. Visa biasanya dikeluarkan oleh kedutaan besar atau konsulat negara tujuan di negara asal wisatawan.

Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), negara tujuan utama wisatawan Indonesia pada tahun 2020 adalah Singapura (23 persen), Malaysia (19 persen), Thailand (9 persen), Jepang (7 persen), dan Australia (6 persen). Negara-negara ini memiliki kebijakan visa yang berbeda-beda untuk wisatawan Indonesia.

Untuk berwisata ke Singapura, Malaysia, dan Thailand, wisatawan Indonesia tidak perlu mengurus visa terlebih dahulu. Cukup dengan membawa paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan, wisatawan Indonesia dapat memasuki ketiga negara tersebut tanpa visa untuk masa tinggal maksimal 30 hari. Ini disebabkan oleh adanya perjanjian bebas visa antara Indonesia dan negara-negara tersebut.

Untuk berwisata ke Jepang, wisatawan Indonesia perlu mengurus visa terlebih dahulu. Visa untuk Jepang dapat diajukan melalui agen perjalanan yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Jepang di Indonesia atau melalui kantor konsuler Jepang di kota-kota tertentu. Dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa Jepang antara lain adalah formulir permohonan visa, paspor, foto berukuran 4,5x4,5 cm, bukti pemesanan tiket pesawat dan akomodasi, rencana perjalanan, dan bukti keuangan. Biaya pengurusan visa Jepang adalah Rp320.000. Proses pengurusan visa Jepang biasanya memakan waktu sekitar 5-7 hari kerja.

Untuk berwisata ke Australia, wisatawan Indonesia juga perlu mengurus visa terlebih dahulu. Visa untuk Australia dapat diajukan secara online melalui situs resmi Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan Australia. Dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa Australia antara lain adalah formulir permohonan visa, paspor, foto berukuran 3,5x4,5 cm, bukti pemesanan tiket pesawat dan akomodasi, rencana perjalanan, dan bukti keuangan. Biaya pengurusan visa Australia adalah AUD145 atau sekitar Rp1.500.000. Proses pengurusan visa Australia biasanya memakan waktu sekitar 15-30 hari kerja.

 

3. Uang Tunai

Uang tunai adalah alat pembayaran yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Uang tunai diperlukan untuk melakukan transaksi di negara tujuan, seperti membayar transportasi, makanan, belanja, dan lain-lain. Uang tunai juga dapat digunakan sebagai cadangan jika terjadi masalah dengan kartu kredit atau debit.

Setiap negara memiliki mata uangnya sendiri yang memiliki nilai tukar yang berbeda dengan mata uang Indonesia. Oleh karena itu, sebelum berwisata ke luar negeri, wisatawan Indonesia perlu menukar uang rupiah menjadi mata uang negara tujuan. Penukaran uang dapat dilakukan di bank, money changer, atau bandara.

Menurut data dari Bank Indonesia (BI), kurs rupiah terhadap mata uang negara tujuan utama wisatawan Indonesia pada tanggal 1 April 2023 adalah sebagai berikut:

  • Singapura: 1 SGD = Rp10.704
  • Malaysia: 1 MYR = Rp3.453
  • Thailand: 1 THB = Rp435
  • Jepang: 1 JPY = Rp129
  • Australia: 1 AUD = Rp10.456

Kurs rupiah terhadap mata uang asing dapat berubah-ubah setiap saat sesuai dengan kondisi pasar. Oleh karena itu, wisatawan Indonesia perlu memantau perkembangan kurs rupiah sebelum dan selama berwisata ke luar negeri. Wisatawan Indonesia juga perlu memperhatikan biaya administrasi dan komisi yang dikenakan oleh penyedia layanan penukaran uang.

Selain membawa uang tunai, wisatawan Indonesia juga dapat membawa kartu kredit atau debit sebagai alat pembayaran alternatif di luar negeri. Kartu kredit atau debit dapat digunakan untuk melakukan pembayaran di sebagian besar tempat di luar negeri, seperti hotel, restoran, toko, dan ATM. Kartu kredit atau debit juga dapat memberikan manfaat seperti perlindungan asuransi, cashback, diskon, dan poin reward. Namun, kartu kredit atau debit juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan oleh wisatawan Indonesia.

Salah satu kekurangan kartu kredit atau debit adalah adanya biaya transaksi luar negeri (BTLN) yang dikenakan oleh bank penerbit kartu. BTLN adalah biaya tambahan yang harus dibayar oleh pemegang kartu ketika melakukan transaksi di luar negeri dengan mata uang asing. BTLN biasanya berkisar antara 1-3 persen dari jumlah transaksi. BTLN dapat meningkatkan biaya perjalanan jika tidak dikelola dengan baik.

Selain BTLN, kartu kredit atau debit juga rentan terhadap risiko keamanan, seperti pencurian, penipuan, atau pemblokiran. Pencurian dapat terjadi jika kartu kredit atau debit hilang atau dicuri oleh orang lain. Penipuan dapat terjadi jika data kartu kredit atau debit disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemblokiran dapat terjadi jika bank menganggap transaksi di luar negeri sebagai mencurigakan dan menghentikan akses ke kartu kredit atau debit.

Untuk menghindari risiko-risiko tersebut, wisatawan Indonesia perlu melakukan beberapa langkah pencegahan sebelum dan selama berwisata ke luar negeri dengan menggunakan kartu kredit atau debit. Beberapa langkah pencegahan tersebut antara lain adalah:

  • Memilih kartu kredit atau debit yang memiliki BTLN rendah atau nol. Beberapa bank menawarkan kartu kredit atau debit khusus untuk transaksi luar negeri yang tidak dikenakan BTLN atau memberikan cashback sebesar BTLN. Wisatawan Indonesia dapat memanfaatkan kartu kredit atau debit tersebut untuk menghemat biaya perjalanan.
  • Menginformasikan rencana perjalanan ke bank penerbit kartu. Dengan memberitahu bank tentang negara tujuan, tanggal keberangkatan, dan tanggal kepulangan, wisatawan Indonesia dapat mengurangi risiko pemblokiran kartu kredit atau debit karena dianggap mencurigakan. Bank juga dapat memberikan informasi tentang jaringan ATM yang dapat digunakan di negara tujuan.
  • Menjaga keamanan kartu kredit atau debit. Wisatawan Indonesia harus menyimpan kartu kredit atau debit di tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau oleh orang lain. Wisatawan Indonesia juga harus menjaga kerahasiaan nomor PIN dan kode CVV kartu kredit atau debit. Jika terjadi kehilangan atau pencurian kartu kredit atau debit, wisatawan Indonesia harus segera melaporkannya ke bank untuk memblokir kartu dan mencegah penyalahgunaan.
  • Mengecek tagihan kartu kredit atau debit secara berkala. Wisatawan Indonesia harus memeriksa tagihan kartu kredit atau debit secara online atau melalui aplikasi mobile banking untuk memastikan tidak ada transaksi yang tidak sah atau tidak sesuai. Jika ada transaksi yang mencurigakan, wisatawan Indonesia harus segera menghubungi bank untuk melakukan klarifikasi dan penyelesaian.

Bagaimana cara mengurus visa untuk perjalanan ke Luar Negeri?

Untuk melakukan perjalanan ke Luar Negeri, Anda perlu mengurus visa yang sesuai dengan negara tujuan, keperluan, dan lama kunjungan Anda. Visa adalah surat izin atau persetujuan untuk tinggal sementara di negara lain. Berikut ini adalah cara mengurus visa untuk perjalanan internasional:

  • Tentukan negara tujuan dan jenis visa yang Anda butuhkan. Anda bisa mencari informasi tentang persyaratan visa di website kedutaan besar atau konsulat negara tujuan.
  • Siapkan dokumen yang diperlukan, seperti paspor, KTP, pas foto, formulir permohonan, bukti pembayaran, surat keterangan kerja atau belajar, surat keterangan sponsor, surat keterangan sehat, dan lain-lain. Dokumen yang dibutuhkan bisa berbeda-beda tergantung negara dan jenis visa yang Anda ajukan.
  • Lakukan pendaftaran dan reservasi jadwal wawancara atau verifikasi dokumen melalui website kedutaan besar atau konsulat negara tujuan. Anda juga bisa mengurus visa melalui travel agent yang ditunjuk oleh negara tujuan.
  • Datang ke kedutaan besar atau konsulat negara tujuan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Bawa dokumen yang telah Anda siapkan dan ikuti proses wawancara atau verifikasi dokumen.
  • Tunggu hingga visa Anda selesai diproses dan siap diambil. Lama proses visa bisa bervariasi tergantung negara dan jenis visa yang Anda ajukan.

Bagaimana jika paspor hilang di Negara yang dikunjungi?

Jika paspor Anda hilang di negara yang Anda kunjungi, Anda harus segera mengambil langkah-langkah berikut ini:

1. Laporkan kehilangan paspor Anda ke kantor polisi terdekat dan minta surat keterangan kehilangan. Anda harus memberikan keterangan yang jujur dan lengkap tentang kejadian yang menyebabkan paspor Anda hilang. 

2. Hubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat RI di negara tersebut dan laporkan kehilangan paspor Anda. Anda juga bisa meminta bantuan dari pihak KBRI atau Konsulat RI untuk mengurus paspor pengganti.

3. Datangi KBRI atau Konsulat RI dan ajukan permohonan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). SPLP adalah paspor sementara yang bisa digunakan untuk kembali ke Indonesia atau melanjutkan perjalanan Anda. Anda harus membayar biaya permohonan SPLP sesuai dengan kebijakan KBRI atau Konsulat RI yang Anda kunjungi.

4. Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mengurus SPLP, seperti kartu identitas diri (KTP, buku nikah, kartu keluarga, atau akta kelahiran), fotokopi paspor yang hilang (jika ada), surat keterangan kehilangan dari pihak kepolisian, pasfoto 4x6 dengan latar belakang terang, dan formulir SPLP yang sudah diisi dan ditandatangani.

5. Tunggu hingga SPLP Anda selesai diproses dan siap diambil. Lama proses SPLP bisa bervariasi tergantung negara dan jenis visa yang Anda ajukan. Tanyakan kepada petugas KBRI atau Konsulat RI tentang masa berlaku SPLP Anda.

6. Segera urus paspor baru Anda di kantor imigrasi di Indonesia setelah Anda kembali. Anda harus membawa SPLP, surat keterangan kehilangan dari pihak kepolisian, dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk penggantian paspor. Anda juga harus membayar biaya penggantian paspor yang lebih tinggi daripada biaya pembuatan paspor biasa.

  

Data Statistik

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2021 mencapai 1,27 juta orang. Jumlah ini menurun sebesar 83,53 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 7,74 juta orang. Penurunan ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas antarnegara.

Sebaliknya, jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke luar negeri pada tahun 2021 mencapai 2,48 juta orang. Jumlah ini meningkat sebesar 18,10 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 2,10 juta orang. Peningkatan ini menunjukkan adanya minat yang tinggi dari masyarakat Indonesia untuk berwisata ke luar negeri.

Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), negara tujuan utama wisatawan Indonesia pada tahun 2020 adalah Singapura (23 persen), Malaysia (19 persen), Thailand (9 persen), Jepang (7 persen), dan Australia (6 persen). Negara-negara ini memiliki kebijakan visa yang berbeda-beda untuk wisatawan Indonesia.


Pendapat Para Pakar

1. Menurut Haryadi Sukamdani, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), salah satu alasan masyarakat Indonesia lebih suka berwisata ke luar negeri saat ini berkaitan dengan kreativitas para pelaku usaha pariwisata dalam mengembangkan produknya. Ia mengatakan bahwa produk pariwisata di Indonesia kurang promosi dan kurang kreatif, sehingga kurang menarik minat wisatawan. Ia juga menyarankan agar asosiasi usaha pariwisata lebih aktif berkomunikasi dengan pemangku kepentingan lain untuk menjalankan program-program pariwisata secara tuntas.

2. Menurut Pendit S Nyoman, ahli ilmu pariwisata, pariwisata adalah kegiatan orang-orang sementara dalam jangka waktu pendek, ketempat-tempat tujuan di luar tempat tinggalnya dan tempat bekerjanya, serta di luar kegiatan-kegiatan mereka, dan selama di tempat tujuan mempunyai berbagai maksud, termasuk kunjungan wisata. Ia mengemukakan bahwa pariwisata memiliki dampak sosial, budaya, dan ekonomi bagi tuan rumah dan tamu. Ia juga mengajak agar pariwisata dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan indikator-indikator seperti kesejahteraan tuan rumah, kualitas lingkungan, kepuasan tamu, dan daya saing destinasi.

3. Menurut 2021-Q2 Travel Recovery Trend Report, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Trip.com Group, sebuah perusahaan penyedia layanan perjalanan online global, industri pariwisata semakin pulih di kuartal kedua 2021. Laporan ini menunjukkan peningkatan keinginan wisata ke luar negeri lantaran adanya vaksin Covid-19 dan pelonggaran aturan perjalanan. Sebanyak 27 persen wisatawan bakal berwisata ke luar negeri dalam 12 bulan mendatang, walau masih ada 60 persen yang akan melancong di dalam negara mereka. Laporan ini juga mengungkapkan bahwa wisatawan lebih memilih destinasi yang aman, sehat, dan ramah lingkungan.


Kesimpulan

Berwisata ke luar negeri merupakan pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat. Namun, berwisata ke luar negeri juga membutuhkan persiapan yang matang, termasuk dalam hal perlengkapan yang harus dibawa. Tiga perlengkapan yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri adalah paspor, visa, dan uang tunai.

Paspor adalah dokumen terpenting yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri. Paspor berfungsi sebagai identitas diri dan bukti kewarganegaraan di negara tujuan. Paspor juga diperlukan untuk mengurus visa perjalanan, jika diperlukan.

Visa adalah izin untuk memasuki sebuah negara. Visa diperlukan oleh sebagian besar negara di dunia untuk mengatur arus masuk dan keluar wisatawan asing. Visa biasanya dikeluarkan oleh kedutaan besar atau konsulat negara tujuan di negara asal wisatawan.

Uang tunai adalah alat pembayaran yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Uang tunai diperlukan untuk melakukan transaksi di negara tujuan, seperti membayar transportasi, makanan, belanja, dan lain-lain. Uang tunai juga dapat digunakan sebagai cadangan jika terjadi masalah dengan kartu kredit atau debit.

Selain membawa uang tunai, wisatawan Indonesia juga dapat membawa kartu kredit atau debit sebagai alat pembayaran alternatif di luar negeri. Kartu kredit atau debit dapat memberikan manfaat seperti perlindungan asuransi, cashback, diskon, dan poin reward. Namun, kartu kredit atau debit juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan oleh wisatawan Indonesia, seperti biaya transaksi luar negeri, risiko keamanan, dan pemblokiran.

Untuk menghindari kekurangan tersebut, wisatawan Indonesia perlu melakukan beberapa langkah pencegahan sebelum dan selama berwisata ke luar negeri dengan menggunakan kartu kredit atau debit. Beberapa langkah pencegahan tersebut antara lain adalah memilih kartu kredit atau debit yang memiliki BTLN rendah atau nol, menginformasikan rencana perjalanan ke bank penerbit kartu, menjaga keamanan kartu kredit atau debit, dan mengecek tagihan kartu kredit atau debit secara berkala.

 

FAQs

Q: Apa saja dokumen yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri?

A: Dokumen yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri adalah paspor, visa (jika diperlukan), tiket pesawat, bukti pemesanan akomodasi, asuransi perjalanan (jika ada), dan surat keterangan kesehatan (jika diperlukan).


Q: Berapa banyak uang tunai yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri?

A: Jumlah uang tunai yang harus dibawa saat berwisata ke luar negeri tergantung pada beberapa faktor, seperti durasi perjalanan, tujuan perjalanan, gaya hidup, dan anggaran. Secara umum, sebaiknya membawa uang tunai sekitar 10-20 persen dari total biaya perjalanan. Sisanya dapat menggunakan kartu kredit atau debit.


Q: Bagaimana cara mendapatkan visa untuk berwisata ke luar negeri?

A: Cara mendapatkan visa untuk berwisata ke luar negeri bervariasi tergantung pada negara tujuan. Beberapa negara memberikan fasilitas bebas visa atau visa on arrival untuk wisatawan Indonesia. Beberapa negara lainnya mengharuskan wisatawan Indonesia mengurus visa terlebih dahulu di kedutaan besar atau konsulat negara tujuan di Indonesia. Untuk informasi lebih lengkap tentang persyaratan visa untuk berbagai negara, dapat mengunjungi situs resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

 

Sumber Referensi: 

(1) Badan Pusat Statistik.

(2) Badan Pusat Statistik.

(3) 10 Dokumen Penting yang Wajib Dibawa Saat Traveling ke Luar Negeri.

(4) 20 Persiapan Liburan ke Luar Negeri (#Wajib Disiapkan).

(5) 12 Barang Wajib Dibawa Saat Liburan ke Luar Negeri -ruparupa.


My Profile:

Salam! Saya Riesty, seorang penulis konten kreatif dengan fokus pada bidang keahlian CEO (Content, Experience, Optimization). Saya memiliki passion yang mendalam dalam menghasilkan materi konten yang informatif, inspiratif, dan berkualitas tinggi. Dengan latar belakang dalam industri ini, saya memahami pentingnya menghubungkan pengalaman pengguna yang luar biasa dengan optimalisasi konten yang cerdas.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, mengedukasi, dan menghubungkan. Saya senang berkolaborasi dengan klien untuk menciptakan konten yang tidak hanya menggugah rasa ingin tahu, tetapi juga memiliki dampak positif bagi audiens. Keahlian saya dalam bidang CEO memungkinkan saya untuk merangkul pendekatan yang holistik dalam strategi konten, dengan menggabungkan pengalaman, keahlian, kewenangan, dan kepercayaan.

Mari kita berkolaborasi untuk membawa konten Anda menuju level berikutnya dan menghadirkan cerita yang tak terlupakan. Hubungi saya untuk diskusi lebih lanjut. Terima kasih atas kunjungannya!