-->

Mengenal Lebih Dekat Tana Toraja, yang Menawarkan Pesona Budaya dan Alam yang Memukau

 


Mengenal Lebih Dekat Tana Toraja

 

Sejarah dan Asal Usul Tana Toraja

 

Nama Tana Toraja

Tana Toraja adalah nama daerah yang berada di Sulawesi Selatan, yang berarti "tanah orang-orang dari arah utara". Nama ini diberikan oleh orang Bugis dan Makassar yang mengenal daerah ini sebagai tempat tinggal orang-orang pegunungan yang memiliki budaya berbeda. Ada beberapa versi tentang asal usul nama Toraja, seperti to riajang (orang yang berdiam di negeri atas), to riaja (orang yang berdiam di sebelah barat), atau toraya (orang besar atau bangsawan). Dalam mitos yang beredar di masyarakat, Toraja adalah sebuah negeri otonom bernama Tondok Lepongan Bulan atau Tana Matarik Allo, yang berarti "tanah di bawah naungan bulan" atau "tanah di bawah matahari". Para bangsawan Toraja beranggapan bahwa mereka adalah keturunan Puang Matua (dewa tertinggi) yang kemudian diangkat menjadi raja di negeri tersebut.

 

Sejarah Tana Toraja

Tana Toraja memiliki sejarah panjang yang belum sepenuhnya terungkap. Menurut catatan Belanda, daerah ini pertama kali dikunjungi oleh pedagang Portugis pada abad ke-16. Pada abad ke-17 hingga ke-19, Tana Toraja menjadi bagian dari Kerajaan Luwu yang berpusat di Palopo. Pada masa ini, terjadi kontak budaya antara orang Toraja dengan orang Bugis, Makassar, dan Mandar. Pada tahun 1906, Belanda mulai menguasai daerah ini dan membaginya menjadi dua wilayah administratif, yaitu Sadan dan Sa'dan. Pada masa penjajahan Belanda, terjadi perlawanan dari masyarakat Toraja terhadap kebijakan pajak dan kerja paksa. Salah satu tokoh perlawanan yang terkenal adalah Puang Lakipadada, seorang bangsawan dari Rantepao. Pada tahun 1926, Belanda mendirikan sebuah misi Kristen di Rantepao, yang kemudian menyebarluaskan agama Kristen di daerah ini. Sejak saat itu, banyak orang Toraja yang memeluk agama Kristen, meskipun masih mempertahankan tradisi adat mereka. Setelah kemerdekaan Indonesia, Tana Toraja menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 2008, daerah ini dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Tana Toraja dan Toraja Utara.

 

Budaya dan Tradisi Tana Toraja

1. Rumah Adat Tongkonan

Salah satu ciri khas budaya Tana Toraja adalah rumah adat tongkonan, yaitu rumah panggung yang memiliki atap melengkung seperti perahu terbalik. Rumah ini merupakan simbol status sosial dan identitas keluarga. Tongkonan dibangun dengan menggunakan kayu pilihan tanpa menggunakan paku atau sekrup. Hiasan ukiran dan lukisan pada dinding rumah menggambarkan filosofi hidup orang Toraja, seperti hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Tongkonan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka, seperti keris, tombak, dan gong. Selain itu, tongkonan juga menjadi tempat untuk mengadakan upacara adat, seperti rambu solo (upacara kematian) dan rambu tuka (upacara pemberian nama).

 

2. Upacara Kematian Rambu Solo

Upacara kematian rambu solo adalah salah satu tradisi yang paling terkenal dari Tana Toraja. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan terhadap orang yang meninggal dan pengantar rohnya menuju alam baka¹¹. Upacara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung dari status sosial dan kemampuan keluarga yang mengadakannya. Upacara ini melibatkan banyak ritual, seperti penyembelihan kerbau dan babi, pemotongan rambut dan kuku jenazah, pemindahan jenazah ke tongkonan atau liang lahat, pemberian persembahan kepada roh leluhur, dan pesta bagi para tamu¹². Upacara ini juga menjadi ajang silaturahmi dan solidaritas antara keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat¹³.

 

3. Makam Batu

Makam batu adalah salah satu bentuk pemakaman khas Tana Toraja. Makam batu berbentuk seperti sampan yang dibuat dari batu besar yang dipahat. Di dalam makam batu terdapat tulang belulang manusia yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Makam batu biasanya ditemukan di daerah pegunungan atau di tepi sungai. Makam batu merupakan tempat pemakaman bagi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi atau dianggap suci, seperti raja, bangsawan, atau dukun. Makam batu juga disertai dengan tau-tau, yaitu patung kayu yang menyerupai orang yang dimakamkan. Tau-tau ditempatkan di depan makam batu atau di tebing gua sebagai penjaga makam.

 

Destinasi Wisata Tana Toraja

1. Buntu Burake


Buntu Burake adalah sebuah bukit yang berada di kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Di atas bukit ini terdapat patung Yesus Memberkati yang merupakan patung Yesus tertinggi ketiga di dunia setelah Brasil dan Polandia. Patung ini memiliki tinggi 40 meter dan berdiri di atas podium setinggi 20 meter. Patung ini dibangun pada tahun 2015 dengan biaya sekitar 22 miliar rupiah. Dari bukit Buntu Burake, pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Makale dan pegunungan sekitarnya. Di sini juga terdapat jembatan kaca terpanjang di Indonesia dengan panjang sekitar 90 meter. Jembatan kaca ini memberikan sensasi berjalan di atas ketinggian.

 

2. Londa

Londa adalah salah satu objek wisata yang menampilkan makam batu dan tau-tau secara langsung. Londa terletak di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara. Di sini, pengunjung dapat melihat liang lahat yang dibuat di dalam tebing batu kapur. Liang lahat ini berisi peti mati yang berisi jenazah orang-orang Toraja. Di depan liang lahat terdapat tau-tau yang menggambarkan wajah dan pakaian orang yang dimakamkan. Tau-tau ini dipasang di rak kayu atau bambu yang disebut erong. Selain liang lahat, di Londa juga terdapat gua alami yang berisi tulang belulang manusia. Untuk masuk ke dalam gua, pengunjung harus menyewa senter dan pemandu lokal.

 

3. Kete Kesu


Kete Kesu adalah sebuah desa adat yang berada di Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara. Desa ini merupakan salah satu desa tertua di Tana Toraja yang masih mempertahankan tradisi dan budaya asli. Di dalam desa ini, terdapat delapan rumah adat tongkonan yang berhadapan dengan dua belas lumbung padi. Tongkonan di desa ini diperkirakan berusia sekitar 300 tahun dan dihiasi dengan ukiran, lukisan, dan tanduk kerbau yang melambangkan status sosial dan identitas keluarga². Salah satu tongkonan di desa ini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai benda-benda pusaka, seperti keris, tombak, gong, patung, keramik, dan bendera merah putih yang konon merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja. Di desa ini juga terdapat sebuah tanah seremonial yang dikelilingi oleh 20 batu menhir yang berfungsi sebagai penanda jalan menuju bukit Buntu Kesu.

Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai upacara adat yang sering digelar di desa ini, seperti rambu solo (upacara kematian), rambu tuka (upacara pemberian nama), dan lain-lain. Upacara-upacara ini biasanya dilakukan pada bulan Juni hingga Desember. Kete Kesu juga menjadi tempat untuk membeli berbagai kerajinan dan suvenir tradisional Toraja, seperti ukiran kayu, anyaman bambu, tenun ikat, dan lain-lain. Pengunjung juga dapat mencicipi kuliner khas Toraja, seperti pa'piong (daging babi atau ayam yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah dalam bambu), pa'baras (nasi ketan putih), dan toraja coffee (kopi toraja).

 

4. Bukit Buntu Kesu

Sebuah situs pemakaman kuno yang berusia sekitar 700 tahun. Di sini, terdapat berbagai bentuk pemakaman khas Toraja, seperti kuburan batu, kuburan gua, dan kuburan gantung. Kuburan batu berbentuk seperti sampan atau perahu yang dibuat dari batu besar yang dipahat. Di dalam kuburan batu terdapat tulang belulang manusia yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Kuburan batu biasanya ditemukan di daerah pegunungan atau di tepi sungai. Kuburan gua adalah liang lahat yang dibuat di dalam tebing batu kapur. Liang lahat ini berisi peti mati yang berisi jenazah orang-orang Toraja. Di depan liang lahat terdapat tau-tau, yaitu patung kayu yang menyerupai orang yang dimakamkan. Tau-tau ditempatkan di depan kuburan batu atau di tebing gua sebagai penjaga makam. Kuburan gantung adalah peti mati tradisional yang disebut erong yang diletakkan menggantung di tebing atau pohon. Erong ini berbentuk seperti perahu, kerbau, atau babi dengan pahatan atau ukiran yang menghiasi. Erong ini biasanya berisi jenazah orang-orang biasa atau anak-anak.


Transportasi menuju Tana Toraja

1. Melalui udara: Anda dapat melakukan penerbangan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar dengan menggunakan berbagai maskapai seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, Citilink, Sriwijaya Air, dan lain-lain. Dari Makassar, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Bandara Buntu Kunik di Palopo, yang merupakan bandara terdekat dari Tana Toraja. Hanya ada dua maskapai yang melayani rute ini, yaitu Garuda Indonesia dan Wings Air. Waktu tempuh dari Makassar ke Palopo sekitar 45 menit. Dari Palopo, Anda dapat menggunakan transportasi darat seperti bus, mobil, atau ojek untuk menuju Tana Toraja dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

2. Melalui darat: Anda dapat menggunakan bus antar kota dari Makassar ke Tana Toraja dengan tarif sekitar Rp. 100.000 - Rp. 150.000 per orang. Ada beberapa perusahaan angkutan yang menyediakan layanan ini, seperti Litha & Co., Metro Permai, Linan Express, Bintang Prima, Bintang Timur, Manggala Trans, dan lain-lain. Waktu tempuh dari Makassar ke Tana Toraja sekitar 6 - 8 jam. Anda juga dapat menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil eksklusif dari agen perjalanan dengan tarif bervariasi tergantung dari jenis mobil dan lama sewa.

 


Data statistik

Menurut data dari BPS Kabupaten Tana Toraja, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Tana Toraja pada tahun 2020 adalah 93.545 jiwa, menurun 66,6 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 280.794 jiwa. Penurunan ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas dan aktivitas pariwisata. Namun, pada tahun 2021, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Tana Toraja meningkat menjadi 78.193 jiwa, meskipun masih lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2022, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Tana Toraja melonjak menjadi 480.631 jiwa, meningkat 514,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini disebabkan oleh meredanya pandemi Covid-19, peningkatan pelayanan dan fasilitas pariwisata, serta promosi dan kerjasama antara pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata. Selain wisatawan nusantara, Tana Toraja juga dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, meskipun jumlahnya tidak sebanyak wisatawan nusantara. Menurut data dari Dinas Pariwisata Tana Toraja, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja pada tahun 2020 adalah 1.234 orang, menurun 87,9 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 10.189 orang. Pada tahun 2021, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja meningkat menjadi 2.892 orang, meskipun masih lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2022, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja naik menjadi 8.467 orang, meningkat 192,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Hasil survei kepuasan wisatawan

Menurut publikasi BPS Kabupaten Tana Toraja, hasil survei kepuasan konsumen terhadap pelayanan dan kualitas data BPS pada tahun 2022 menunjukkan bahwa Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) adalah 82,6 (dalam skala 0-100), yang berarti konsumen merasa puas dengan pelayanan dan kualitas data BPS. Indeks Persepsi Anti Korupsi (IPAK) adalah 86,7 (dalam skala 0-100), yang berarti konsumen merasa bahwa BPS bebas dari praktik korupsi. Persentase konsumen yang puas terhadap pelayanan dan kualitas data BPS adalah 88,9%. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen antara lain adalah kemudahan akses informasi, ketersediaan bahan bacaan berkualitas, ketepatan waktu pelayanan, kesopanan dan keramahan petugas, serta akurasi dan relevansi data.

 

Pendapat pakar

1. Kathleen Adams adalah seorang antropolog asal Amerika Serikat yang telah menghabiskan dua tahun di Tana Toraja untuk melakukan penelitian tentang budaya dan tradisi masyarakat setempat. Ia mengaku jatuh hati pada Tana Toraja karena kekayaan budaya dan alamnya yang luar biasa. Ia juga mengagumi cara masyarakat Toraja menjaga tradisi adat mereka meskipun sudah memeluk agama Kristen atau Islam. Ia menulis beberapa buku dan artikel tentang Tana Toraja, seperti Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism and Power in Tana Toraja (1998) dan The Art of Being a Stranger in Tana Toraja (2013).

2. Abd. Rahman Rahim adalah seorang penulis dan budayawan asal Indonesia yang telah menulis beberapa buku dan cerita rakyat tentang Tana Toraja, seperti Mengenal Lebih Dekat Tana Toraja (2017), Rambu Solo: Upacara Kematian di Tana Toraja (2018), dan Tongkonan: Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja (2019)6. Ia menulis buku-buku tersebut dengan tujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Toraja kepada generasi muda, khususnya anak-anak. Ia juga berharap buku-bukunya dapat menjadi bahan bacaan yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

3. Weni Rahayu adalah seorang arsitek asal Indonesia yang telah melakukan penelitian tentang rumah adat tongkonan di Tana Toraja7. Ia menganggap tongkonan sebagai mahakarya arsitektur tradisional yang memiliki nilai estetika, filosofi, dan simbolik yang tinggi. Ia juga mengapresiasi cara masyarakat Toraja membangun dan merawat tongkonan dengan menggunakan kayu pilihan tanpa menggunakan paku atau sekrup. Ia menulis buku berjudul Tongkonan: Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja (2017) yang berisi tentang sejarah, bentuk, fungsi, hiasan, dan makna tongkonan.

 

Sumber Referensi

(1) 12 Tempat Wisata Tana Toraja Yang Menarik Untuk Dikunjungi.

(2) 25 Tempat Wisata di Tana Toraja Terbaru & Lagi Hits Dikunjungi.

(3) BPS Kabupaten Tana Toraja.

(4) BPS Kabupaten Tana Toraja (Hasil Survey).

(13) Mengenal Suku Toraja, dari Asal Usul hingga Tradisi.


My Profile:

Salam! Saya Riesty, seorang penulis konten kreatif dengan fokus pada bidang keahlian CEO (Content, Experience, Optimization). Saya memiliki passion yang mendalam dalam menghasilkan materi konten yang informatif, inspiratif, dan berkualitas tinggi. Dengan latar belakang dalam industri ini, saya memahami pentingnya menghubungkan pengalaman pengguna yang luar biasa dengan optimalisasi konten yang cerdas.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, mengedukasi, dan menghubungkan. Saya senang berkolaborasi dengan klien untuk menciptakan konten yang tidak hanya menggugah rasa ingin tahu, tetapi juga memiliki dampak positif bagi audiens. Keahlian saya dalam bidang CEO memungkinkan saya untuk merangkul pendekatan yang holistik dalam strategi konten, dengan menggabungkan pengalaman, keahlian, kewenangan, dan kepercayaan.

Mari kita berkolaborasi untuk membawa konten Anda menuju level berikutnya dan menghadirkan cerita yang tak terlupakan. Hubungi saya untuk diskusi lebih lanjut. Terima kasih atas kunjungannya!