-->

Backpacking di Indonesia: Petualangan Alam, Budaya, dan Sejarah

 


Temukan Pengalaman Backpacking Terbaik di Indonesia

Pendahuluan

Backpacker adalah sebutan untuk orang yang suka berwisata dengan cara hemat dan sederhana. Biasanya, backpacker membawa barang seadanya dan tidak terlalu memilih tempat menginap yang mewah. Tujuan utama backpacker adalah menikmati perjalanan dan pengalaman yang didapat dari berbagai tempat wisata.

Namun, tidak semua tempat wisata cocok untuk backpacker. Ada beberapa jenis wisata yang lebih sesuai dengan gaya backpacker daripada yang lain. Berikut adalah tiga jenis wisata yang cocok untuk backpacker, yaitu alam, budaya, dan sejarah.

 

Wisata Alam

Wisata alam adalah jenis wisata yang menawarkan keindahan alam sebagai daya tarik utamanya. Wisata alam bisa berupa pegunungan, pantai, pulau, hutan, air terjun, danau, sungai, atau taman nasional. Wisata alam cocok untuk backpacker karena biasanya memiliki biaya masuk yang murah atau bahkan gratis, tidak membutuhkan fasilitas khusus, dan memberikan sensasi petualangan yang menantang.

Salah satu contoh wisata alam yang populer di Indonesia adalah Gunung Bromo di Jawa Timur. Gunung Bromo adalah salah satu gunung berapi aktif yang memiliki pemandangan spektakuler, terutama saat matahari terbit. Backpacker bisa menikmati keindahan Gunung Bromo dengan cara mendaki, berkuda, atau naik jeep¹. Selain itu, backpacker juga bisa mengunjungi kawasan sekitarnya, seperti Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik, Padang Savana, dan Air Terjun Madakaripura.

 

Wisata Budaya

Wisata budaya adalah jenis wisata yang menampilkan kekayaan budaya suatu daerah atau negara sebagai daya tarik utamanya. Wisata budaya bisa berupa festival, upacara adat, kesenian, kerajinan, kuliner, atau tempat ibadah. Wisata budaya cocok untuk backpacker karena biasanya memberikan pengalaman yang unik dan berkesan, serta memperluas wawasan dan pengetahuan tentang keberagaman budaya.

Salah satu contoh wisata budaya yang populer di Indonesia adalah Yogyakarta. Yogyakarta adalah kota yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa dan Indonesia. Di sini, backpacker bisa menyaksikan berbagai atraksi budaya, seperti wayang kulit, gamelan, tari tradisional, batik, keris, dan gudeg. Selain itu, backpacker juga bisa mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan berbudaya, seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Candi Prambanan, CandiBorobudur, dan Malioboro.


Tips keselamatan dan potensi tantangan yang mungkin dihadapi oleh backpacker saat wisata berkeliling Indonesia:

1. Tips keselamatan:

    * Selalu siapkan dokumen perjalanan seperti paspor, tiket, asuransi, dan kartu identitas. Simpan dokumen-dokumen tersebut di tempat yang aman dan mudah diakses. Jika perlu, buatlah salinan atau foto dokumen-dokumen tersebut untuk berjaga-jaga.

    * Jangan membawa barang-barang berharga seperti perhiasan, laptop, atau kamera yang mahal. Bawalah barang-barang secukupnya dan seperlunya saja. Gunakan tas backpack yang kuat dan memiliki sistem keamanan yang memadai.

    * Selalu waspada terhadap lingkungan sekitar. Hindari tempat-tempat yang sepi, gelap, atau berbahaya. Jika merasa tidak nyaman atau terancam, segera cari tempat yang aman atau minta bantuan orang lain.

    * Ikuti protokol kesehatan yang berlaku di setiap tempat yang dikunjungi. Gunakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan secara rutin. Bawalah obat-obatan pribadi dan perlengkapan kesehatan lainnya seperti hand sanitizer, plester, atau antiseptik.

    * Lakukan riset sebelum berangkat. Cari tahu informasi tentang destinasi, transportasi, penginapan, budaya, dan kebiasaan setempat. Buatlah rencana perjalanan yang jelas dan fleksibel. Jangan ragu untuk bertanya atau meminta bantuan kepada orang-orang lokal yang ramah dan terpercaya.

 

2. Persyaratan visa:

    * Untuk wisatawan asing yang berasal dari negara-negara ASEAN, mereka bisa masuk ke Indonesia tanpa visa kunjungan. Mereka hanya perlu menunjukkan paspor yang masih berlaku minimal enam bulan, tiket kembali atau tiket terusan ke negara lain, bukti pembayaran asuransi sesuai dengan ketetapan Satuan Tugas Covid-19.

    * Untuk wisatawan asing yang berasal dari 43 negara tertentu seperti Timor Leste, Korea Selatan, dan Jepang, mereka bisa mendapatkan visa kunjungan saat kedatangan (visa on arrival) khusus wisata. Mereka perlu membayar tarif sebesar Rp 500.000 untuk mendapatkan visa tersebut. Visa ini berlaku selama 30 hari dan bisa diperpanjang satu kali dengan biaya yang sama.

    * Untuk wisatawan asing yang berasal dari negara-negara lain atau yang ingin melakukan kegiatan selain wisata, mereka perlu mengajukan visa kunjungan satu kali perjalanan (indeks B211A) melalui perwakilan diplomatik atau konsuler Indonesia di luar negeri. Mereka perlu menunjukkan dokumen perjalanan, surat penjaminan dari penjamin di Indonesia atau bukti setor jaminan keimigrasian bagi orang asing dalam rangka prainvestasi, bukti memiliki biaya hidup selama berada di Indonesia paling sedikit 2.000 dolar AS atau setara.

 

3. Potensi tantangan:

    * Hidup dengan anggaran yang ketat. Seorang backpacker harus bisa mengontrol pengeluarannya untuk makanan, minuman, transportasi, penginapan, dan kegiatan wisata. Mereka harus mencari cara untuk menghemat biaya sebanyak mungkin tanpa mengorbankan pengalaman mereka.

    * Berurusan dengan asrama. Seorang backpacker biasanya menginap di asrama atau hostel yang menawarkan tarif murah namun fasilitas terbatas. Mereka harus berbagi kamar dengan orang-orang lain yang mungkin memiliki kebiasaan atau perilaku yang berbeda. Mereka juga harus menjaga barang-barang mereka agar tidak hilang atau dicuri.

    * Mempelajari bahasa asing. Seorang backpacker harus bisa berkomunikasi dengan orang-orang lokal yang mungkin tidak bisa berbahasa Inggris atau bahasa lain yang dikuasai oleh backpacker. Mereka harus belajar kosakata dasar atau menggunakan alat bantu seperti kamus atau aplikasi penerjemah.

    * Jauh dari teman dan keluarga. Seorang backpacker harus bisa mengatasi rasa rindu atau kesepian yang mungkin timbul saat bepergian jauh dalam waktu yang lama. Mereka harus tetap terhubung dengan orang-orang terdekat melalui media sosial atau teknologi lainnya. Mereka juga harus bersikap terbuka dan ramah untuk berteman dengan orang-orang baru yang ditemui di sepanjang perjalanan.


Wisata Sejarah

Wisata sejarah adalah jenis wisata yang menghadirkan jejak-jejak sejarah suatu daerah atau negara sebagai daya tarik utamanya. Wisata sejarah bisa berupa museum, monumen, situs arkeologi, benteng, istana, atau rumah adat. Wisata sejarah cocok untuk backpacker karena biasanya memberikan informasi yang bermanfaat dan mendidik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lalu.

Salah satu contoh wisata sejarah yang populer di Indonesia adalah Jakarta. Jakarta adalah ibu kota Indonesia yang memiliki banyak saksi bisu sejarah bangsa ini. Di sini, backpacker bisa mengunjungi berbagai tempat sejarah, seperti Monumen Nasional (Monas), Museum Nasional (Museum Gajah), Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Bank Indonesia (Museum BI), Museum Wayang (Museum Wayang), Pelabuhan Sunda Kelapa (Pelabuhan Sunda Kelapa), dan Kota Tua (Kota Tua).

 

Data statistik

1. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan nusantara (penduduk Indonesia yang berwisata di dalam negeri) pada tahun 2020 adalah sekitar 264,4 juta perjalanan. Jumlah ini menurun sekitar 42,8 persen dibandingkan dengan tahun 2019 yang mencapai 462,1 juta perjalanan. Penurunan ini disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang membatasi mobilitas dan aktivitas wisata.

2. Berdasarkan profil wisatawan nusantara, sekitar 15,7 persen dari total perjalanan wisatawan nusantara pada tahun 2020 adalah perjalanan dengan gaya backpacker. Artinya, sekitar 41,5 juta perjalanan dilakukan oleh wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020. Jumlah ini juga menurun sekitar 43,9 persen dibandingkan dengan tahun 2019 yang mencapai 74 juta perjalanan.

3. Provinsi asal terbanyak wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah Jawa Barat dengan sekitar 8,6 juta perjalanan. Disusul oleh Jawa Timur dengan sekitar 6,2 juta perjalanan dan Jawa Tengah dengan sekitar 5,8 juta perjalanan. Provinsi tujuan terbanyak wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah Jawa Barat dengan sekitar 7,4 juta perjalanan. Disusul oleh Bali dengan sekitar 5,2 juta perjalanan dan Jawa Timur dengan sekitar 4,9 juta perjalanan.

4. Maksud atau tujuan perjalanan wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah mayoritas untuk rekreasi atau liburan, yaitu sekitar 77,6% dari total perjalanan. Disusul oleh mengunjungi teman atau kerabat, yaitu sekitar 12,4% dan bisnis atau profesional, yaitu sekitar 6,8%. Akomodasi yang paling banyak digunakan oleh wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah penginapan, yaitu sekitar 40,7% dari total perjalanan. Disusul oleh rumah teman atau kerabat, yaitu sekitar 28,9% dan hotel non bintang, yaitu sekitar 13,2%.

5. Lama bepergian rata-rata wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah sekitar 2,8 hari per perjalanan. Pengeluaran rata-rata wisatawan backpacker di Indonesia pada tahun 2020 adalah sekitar Rp 1.066.000 per orang per perjalanan. Pengeluaran terbesar adalah untuk biaya transportasi, yaitu sekitar Rp 489.000 atau sekitar 45,9% dari total pengeluaran.

 

Pendapat Para Pakar

1. Menurut Robert Alexander Moningka, pengamat pariwisata dan Ketua Umum Indonesian Tour Leaders Association (ITLA), wisata backpacker masih memiliki prospek di masa pandemi karena banyak orang yang lebih memilih perjalanan individu dan hemat. Namun, ia juga mengatakan bahwa wisata backpacker belum bisa kembali seperti dulu karena adanya pembatasan dan protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Ia mencontohkan beberapa destinasi populer bagi backpacker, seperti Labuan Bajo dan Yogyakarta.

2. Menurut Nyoman Sukma Arida, pengamat wisata dan dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, wisata backpacker tidak selalu identik dengan wisatawan kurang berkualitas. Ia mengkritik pandangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang hanya mengukur kualitas wisatawan dari sisi pengeluaran uang. Ia menekankan bahwa wisatawan berkualitas adalah mereka yang memiliki motif berkunjung yang tinggi, seperti ingin belajar budaya lokal lebih mendalam dan berinteraksi dengan warga lokal.

3. Menurut Dyah, penulis buku Backpacker: Perjalanan Mandiri Hemat dan Menyenangkan, backpacker dapat diartikan sebagai perjalanan mandiri tanpa trip organizer yang mengatur segala sesuatunya. Ia menjelaskan bahwa backpacker memiliki beberapa karakteristik, seperti memiliki bujet terbatas, membawa barang seadanya, menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki, menginap di tempat murah atau gratis, dan bersedia bertemu dengan orang-orang baru.

 

(FAQs)

Q: Apa saja keuntungan dan kerugian menjadi backpacker?

1. Keuntungan menjadi backpacker adalah bisa berwisata dengan biaya murah, fleksibel, mandiri, dan menantang. Backpacker juga bisa mendapatkan pengalaman yang lebih beragam dan berkesan, serta memperluas jaringan dan pengetahuan.

2. Kerugian menjadi backpacker adalah harus menghadapi risiko dan ketidaknyamanan, seperti keamanan, kesehatan, kesepian, kelelahan, dan kebingungan. Backpacker juga harus siap menghadapi situasi yang tidak terduga dan menyesuaikan diri dengan kondisi setempat.

 

Q: Bagaimana cara menjadi backpacker yang baik?

1. Cara menjadi backpacker yang baik adalah dengan melakukan persiapan yang matang, seperti menentukan tujuan, rute, anggaran, dan perlengkapan. Backpacker juga harus melakukan riset tentang destinasi yang akan dikunjungi, seperti budaya, bahasa, iklim, dan aturan  .

2. Selain itu, backpacker juga harus bersikap terbuka, ramah, sopan, dan menghormati tempat dan orang yang dikunjungi. Backpacker juga harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menghindari hal-hal yang berbahaya atau melanggar hokum.

 

Q: Apa saja tips dan trik untuk backpacker pemula?

Tips dan trik untuk backpacker pemula adalah sebagai berikut:

  • Pilih destinasi yang mudah dijangkau dan aman untuk dikunjungi.

  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang destinasi tersebut, seperti tempat wisata, penginapan, transportasi, kuliner, dan biaya hidup.

  • Buat rencana perjalanan yang realistis dan fleksibel.

  • Bawa barang seperlunya saja dan sesuaikan dengan kebutuhan.

  • Gunakan aplikasi atau situs web yang membantu perjalanan Anda, seperti peta online, penerjemah online, konverter mata uang, atau pencari tiket murah.

  • Bergabung dengan komunitas atau forum backpacker online untuk mendapatkan tips, saran, atau teman seperjalanan  .

 

Kesimpulan

Wisata backpacker adalah jenis wisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan jejak sejarah sebagai daya tarik utamanya. Wisata backpacker cocok untuk orang yang suka berwisata dengan cara hemat, sederhana, mandiri, dan menantang. Namun, wisata backpacker juga memiliki risiko dan ketidaknyamanan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, wisata backpacker membutuhkan persiapan yang matang dan sikap yang baik. Artikel ini juga memberikan contoh-contoh tempat wisata populer di Indonesia yang sesuai dengan masing-masing jenis wisata tersebut. Selain itu, artikel ini juga memberikan data statistik, pendapat para pakar, dan FAQs tentang wisata backpacker.

  

Sumber Referensi

1. 18 Tempat Wisata yang Cocok untuk Backpacker.

2. 5 Kota di Indonesia ini Cocok untuk Wisata ParaBackpacker.

3. Merapat! 3 Tempat Wisata yang Cocok Buat Backpacker.

(4) Tips Traveling Aman untuk Backpacker - IDN Times.

(5) 5 Tips Backpacker, Harus Selalu Cermat dan Terencana! - Blog.


My Profile:

Salam! Saya Riesty, seorang penulis konten kreatif dengan fokus pada bidang keahlian CEO (Content, Experience, Optimization). Saya memiliki passion yang mendalam dalam menghasilkan materi konten yang informatif, inspiratif, dan berkualitas tinggi. Dengan latar belakang dalam industri ini, saya memahami pentingnya menghubungkan pengalaman pengguna yang luar biasa dengan optimalisasi konten yang cerdas.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, mengedukasi, dan menghubungkan. Saya senang berkolaborasi dengan klien untuk menciptakan konten yang tidak hanya menggugah rasa ingin tahu, tetapi juga memiliki dampak positif bagi audiens. Keahlian saya dalam bidang CEO memungkinkan saya untuk merangkul pendekatan yang holistik dalam strategi konten, dengan menggabungkan pengalaman, keahlian, kewenangan, dan kepercayaan.

Mari kita berkolaborasi untuk membawa konten Anda menuju level berikutnya dan menghadirkan cerita yang tak terlupakan. Hubungi saya untuk diskusi lebih lanjut. Terima kasih atas kunjungannya!